Lovely Lily


Tittle: Lovely Lily
Author: Mozi
Cast: Kim Momo (oc), Kang Haneul, Kim Hyun Seok (oc)

Lenght: Mini Story
Genre: AU
Disclaimer: This story fanfic is mine, no copas, no plagiat.
……… Lovely Lily…….

Terbuang lagi…
Kali ini apa, aku hanya sampah dimatanya. Aku hanya rongsokan. Aku hanya tempat singgah
sementara kala ia lelah. Aku hanya tempat peluapan emosi. Hahaha..sudah cukup aku
memang benarbenar
bukan orang yang dia cari. Ingat pepatah lama menyebutkan bahwa
“jangan merasa senang jika dia memberimu perhatian lebih, bisa jadi kamu hanya tempatnya
singgah saat dia bosan dengan yang lain”.
Tuhan… apa lagi ini? Masih belum puaskah kau mengujiku? Masih belum pantaskah aku
untuk bahagia?.

………….. Lovely Lily ………….

Kadang seseorang yang kita sayang dihadirkan bukan untuk kita miliki, tapi untuk menguji
kita. Aku sudah muak mendengar nasihat itu. Rasanya semua orang sama saja, hanya mau
membenarkan apa argumen mereka tanpa mau dikoreksi orang lain. Ahh.. lebih baik aku
bersama kalian, selama ini kalian tidak pernah menyakiti apalagi membuatku menangis.
“Apa aku juga membuatmu menangis Momoya?”.
Suaranya tak asing bagiku, suara yang
telah lama aku rindukan.
“Eonni, eonje waseoyo?” Kupeluk tubuhnya yang tak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek. Jika
bisa dibilang tubuhnya sempurna. “Apaapaan
ini kau datang tanpa memberi kabar padaku!
Ckkk..jahat sekali.” Senyum itu mengembang di bibir mungilnya.
“Ahh.. Indonesia panas sekali, lebih baik kita ke Seoul Momoya”.
“Aku tak tertarik dengan tawaranmu, disini aku merasa lebih hangat. Seoul, bagiku hanya
impian. Seoul, sudah tidak seindah dulu.” Manik mata ini kembali teringat moment indah,
moment menyakitkan, moment yang sudah hampir enam bulan lamanya kucoba untuk
menghapusnya dari ingatanku.
Indahnya kota Seoul, suasana tenang tepian sungai Han, kerlap kerlip lampu kota saat
malam menjelang. Kini hanya ilusi bagiku. Hatiku, perasaanku, impianku, dan angan dari
setiap langkah kaki. Ku tinggalkan bersama luka ini. Ku bangun kembali benteng yang telah
roboh, ku pasang kembali topeng itu. Aku bukan lagi seorang Kim Momo. Aku, hanya
seorang gadis lugu bernama Monica Lazuardi.
“Kau memutuskan semua hubunganmu dengan Seoul. Apakah tak terlalu berlebihan
Momoya?
Seoul kota yang selalu kau impikan. Bagaimana kau selalu bersemangat saat
menceritakannya padaku saat kau pertama kali menginjakkan kakimu di sana. Bagaimana
bisa dengan hanya kurang dari setahun kau melupakan semua hal tentang kota idamanmu
itu?”
Tak kuhiraukan ocehannya, aku terus fokus pada lily dihadapanku. Terlalu sakit jika harus
berhubungan kembali dengan segala aspek tentang Seoul. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa
darah Seoul telah mengalir dalam nadiku. Aku tak mungkin mengingkari bahwa Eomma
adalah orang Korea.
“Momoya…
malhae..mengapa kau jadi pendiam eoh?” Kupalingkan wajahku menatap manik
matanya, tersirat kekecewaan dalam iris cokelatnya.
“Eonni” suaraku tercekat, seakan ada benda besar yang menggantung di dalam rongga
mulutku. Kelu, aku sama sekali tak bisa bersua. “A.. aku.. aku takut. Rasanya amat sakit di
sini” air mata ini mulai meluber bersama dengan tangan kanan ku yang tengah memegang
erat dada sebelah kiri. Terasa sesak, ingin mencuat saja rasanya jantung yang ada di dalam
tubuhku.
“Menangislah sayang, menangislah jika itu yang kau butuhkan. Aku disini, aku akan
menemanimu” Hyun Seok memelukku yang mulai menangis hebat. Untung saja Villa ini jauh
dari keramaian, jadi aku bisa leluasa berteriak dan menangis sepuasnya.

………….Lovely Lily…….

Tiket keberangkatan KoreaIndonesia
sudah di tangan, tapi raut wajahnya tidak juga tenang.
Pemuda dengan kacamata hitam, Tshirt
polos abuabu,
sepatu kets yang berwarna senada
dengan atasannya, serta celana jeans nampak sempurna di tubuhnya yang berbentuk.
Tinggal menunggu pengumuman keberangkatan saja. Masih dengan keraguannya, kaki itu
mondarmandir
tak keruan. Berkalikali
arloji di tangan kanannya ia tatap.
“Tidak.. ini tidak benar, gadis itu telah membohongiku. Dia sudah menyianyiakanku.
Rasanya, perasaan ini semakin jelas. Aku sudah tak memiliki perasaan terhadapnya” kakinya
melangkah penuh keyakinan ke arah pintu keluar bandara Incheon.
Kang Haneul membuang tiket pesawat yang telah robek menjadi dua bagian. Rencananya
menemui Kim Momo di Indonesia terkalahkan oleh egonya.
Dalam perjalanan pulangpun Kang Haneul masih menyalahkan Momo. “Kau tak pantas
menerima perasaanku gadis jalang. Aku sudah salah menilaimu. Kau tidak lebih baik dari
penjahat sekalipun. Hilang sudah perasaan ini terhadapmu.” Sifatnya yang keras kepala
makin tak terkendali. Disambarnya ponsel yang tergeletak dalam dashboard mobilnya.
Haneul mulai menghapus satu persatu akun social media milik Momo. SNS, Kakao Talk,
bahkan nomer ponsel Momo juga tidak luput dari pandangannya. Semuanya yang
berhubungan dengan gadis itu kini lenyap, tak bersisa sedikitpun.
Usahanya mendekati Momo yang penuh perjuangan. Hingga jatuh bangun menggapai hati
seorang Kim Momo, tidak membuatnya ragu untuk menghilangkan semua dari hidupnya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Haneul. Entah kekecewaan atas harapan yang dia bangun
terhadap diri Momo, ataukah memang kesalahan memang ada dalam diri Momo. Hanya dia
dan Tuhan yang tahu.

……………Lovely Lily…….

Kekecewaan itu datang dari dalam diri kita sendiri. Entah kita yang memang tidak bisa
membaca setiap getaran sinyal yang ada. Ataukah memang kesalah pahaman belaka. Hati
tidak pernah salah, namun jalannya saja kadang yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak
kerikil tajam yang siap menghujam setiap langkah kaki. Maka, lepaskanlah jika terasa berat.
Lepaskanlah jika tak mampu bertahan. Lepaskanlah jika itu sulit untuk kau gapai. Dan,
percayalah dia akan kembali dengan cara yang luar biasa hebatnya.
Jangan pernah menyalahkan siapapun atas sakit yang kau terima. Jangan pernah menuduh
siapapun atas kecewa yang kau dapat. Karena jika dirimu sendiri tidak memperbolehkan luka
itu datang, maka dia tidak akan mampu merusakmu.
Jangan sampai ego memutuskan apa yang seharusnya tumbuh dengan indah, jangan sampai
ego.memutuskan apa yang seharusnya membuatmu bahagia. Jangan biarkan ego membuat
pengorbananmu menjadi tak berarti.
Karena kita terpisahkan oleh ego…..

……………..F I N………….

Advertisements