Be Mine

on

Title : Be Mine

Author : Mozi

Cast : Kim Momo (Oc), Kang Haneul, Kim Hyun Seok (Oc)

Genre : AU, Hurt

Lenght : Oneshoot (Sequel Missunderstanding)

Disclaimer : This story fanfiction is mine, segala bentuk plagiat ataupun copas tidak dibenarkan. Tulisan ini hanya sebagian dari inspirasi penulis tanpa maksud merugikan siapapun.

Be Mine

“Ini pertama kalinya aku membuka seluruh keaslian yang ada dalam jiwaku. Tanpa rahasia, tanpa kebiohongan. Kim Momo, tidak akan menyerah sampai disini. Kim Momo selalu kuat, aku yakin semua akan membaik” gadis ini sibuk dalam pikirannya sendiri.

Pemberitahuan pesawat yang akan take off, tujuan Indonesia disiarkan melalui speaker aktif oleh petuas. Momo bergegas masuk, perlahan melangkah menuju antrian pemeriksaan tiket. Sepatu kets Nike dengan warna soft grey, memiliki pinggiran berwarna pink fanta. Celana jeans dengan perpaduan blouse peachnya membuat Momo tampak sangat santai.

“Annyeong, selamat tinggal Korea, selamat tinggal Kang Haneul. Akhirnya aku bisa pergi dengan tenang. Kini kuserahkan semua keputusan ditanganmu. Jangan pernah memaafkan gadis yang tidak punya hati ini, jangan pernah mencari gadis  yang menyedihkan ini, dirimu berhak mendapatkan yang lebih baik daripada seorang Kim Momo” air matanya menetes perlahan, mengalir bersama senyuman manisnya. Momo memilih pergi, entah demi kebaikannya sendiri, kebaikan Haneul atau malah pergi karena lari dari kenyataan yang ada.

Hamparan lautan awan biru, degupan jantung yang tidak pernah berhenti, alunan lembut music dalam earphone Momo menemani kepergiannya ke tempat dimana dia dilahirkan. Momo bukanlah gadis asli Korea, Ibunya adalah orang Korea dan Ayahnya adalah orang Indonesia.

…….Be Mine …..

Indonesia 28 Maret 2015

“Ahhh…sungguh hari yang melelahkan” Momo bangkit dari tempat peraduan setelah perjalanan panjang Korea-Indonesia. Ingin rasanya kembali terlelap, namun Momo lebih memilih sibuk dengan dirinya yang baru. Diri yang bebas tanpa harus susah payah menutupinya dengan sebuah kebohongan, diri yang bebas tanpa sebuah topeng. Hamparan luas kebun dengan bunga lily putih menyambut pemiliknya yang telah lama menghilang. Villa kecil di sudut kota Bandung sengaja Momo pilih untuk tempat tinggalnya. Daripada harus tinggal bersama Ayahnya di Jakarta yang sangat bising, Momo memilih hidup jauh dari keramaian. Dua tahun sudah Momo meninggalkan hamparan lily putih yang sengaja ia tanam. Momo sangat menyukai lily putih, sama seperti mendiang Ibunya. Tempat tinggalnya di Korea jujga dipenuhi oleh lily putih.

“Baiklah aku harus mulai dari kalian dulu sepertinya” gumam Momo pada bunga-bunga miliknya. “Benar-benar sudah lama aku meninggalkan kalian eoh! Syukurlah jika bibi merawat kalian dengan baik, aku tidak akan membuat kalian terlihat menyedihkan sepertiku” ingatannya kembali terbang ke Korea.

Flash Back

“Aku bahkan tidak tahu harus kembali ke Indonesia atau tetap tinggal disini. Jika aku tetap disini maka aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku sudah memutuskan untuk pergi setelah pengakuan itu. Ya, meski Haneul Oppa belum memberikan jawabannya atas pengakuanku” cercah Momo pada lily putihnya di dalam pot.

Flash Back end

Wanita separuh baya yang kerap kali dipanggil Bibi oleh Momo menghampirinya dengan segelas susu cokelat. “Seperti biasa ya, Nona tidak pernah lupa mengajak mereka berbicara” ucapnya sambil memberikan gelas yang telah dipenuhi dengan susu cokelat. “Bibi juga selalu ingat dengan susu cokelat kesukaanku” senyumnya mengembang hangat.

“Sudahkah Nona memberi kabar pada Tuan jika Nona berada disini?” tampak wajahnya yang mulai dihiasi keriput halus. “Setelah sarapan aku akan mengubunginya” jawab Momo halus kemudian meneguk habis susu cokelat ditangannya.

….Be Mine…..

Seoul, 28 Maret 2015

“Yyya Kim Momo, neo jugeulhae. Kau anggap aku apa eoh! Sampai tidak memberikan kabar kau kembali ke Indonesia” teriak Hyun Seok saat selesai membaca pesan singkat yang diberikan oleh Momo. “Aihh, anak ini benar-benar membuatku gila. Aishhh… geurae hae, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan Momo-ah. Aku tahu betapa sulitnya kau bertahan disini, jika dengan begitu kau bisa melupakan rasa sakitmu maka aku selalu mendukungmu.” Hyun Seok kembali melenguhkan napas panjang.

Dipandanginya figura foto tepat di atas nakas disamping tempat tidurnya. Foto dimana Momo dan Hyun Seok sedang tertawa lepas. Kenangan Hyun Seok akan Momo selalu membuatnya terlihat sendu. “Bagaimana bisa seorang sepertimu harus menghadapi kesulitan seperti ini Kim Momo? Hatimu, perasaanmu, pikianmu selalu tertuju pada orang itu. Kekhawatiranmu akan dirinya begitu besar hingga tidak pernah memperhatikan perasaanmu sendiri. Harusnya kau bersyukur Kang Haneul, Momo adalah gadis yang baik tapi kau telah melukainya terlalu dalam. Hingga kini dia harus pergi dengan membunuh perasaannya sendiri yang mulai tumbuh perlahan untukmu. Tapi dengan keegoisanmu, bahkan tidak kau pandang dia sama sekali.” Pikiran ini selalu menghantui otak Hyun Seok.

….Be Mine…..

Haneul sibuk dengan stick drum ditangannya, sudah berkali-kali putaran demi putaran stick itu dalam genggamannya. “Arrghhhhh…. damn!” Haneul berteriak sambil melempar stick drum sembarang tempat kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memberinya jawabankah, memarahinya kerena ketidak jujurannya?. Gadis jahat, menyedihkan, dimana kau taruh hatimu, dimana kau letakkan otakmu, apa kau seorang manusia, apa orang sepertimu pantas disebut manusia?. Arghhhhh … “ Haneul kembali berteriak frustasi.

Braaakk….

“Yya,, Kang Haneul neo nappeun neom” Hyun Seok membanting pintu kamar Haneul dengan kasar. “Kau kira hanya kau yang merasa menderita huh? Kau pikir hanya kau yang tersakiti? Kau pikir kau manusia yang paling dirugikan?” rancau Hyun Seok sembari menarik kerah baju Haneul, air matanya mengalir melewati kelopak mata sipitnya. “Kau menyia-nyiakannya Kang Haneul” tambahnya lagi sambil terisak keras.

“Apa yang kau lakukan Hyun Seok-ah, lepaskan tanganmu dari tubuhku” sentak Haneul tak kalah seru. “Tak perlu kau susah payah datang kesini hanya untuk memberikan pembelaan terhadap kesalahan yang dilakukan Momo. Dia bukan manusia yang pantas mendapatkan simpati darimu” raut wajahnya menunjukkan kemarahan, mukanya memerah.

“Mwo? Bukan manusia? Kau bilang Momo bukan manusia dan tak pantas menerima simpatiku?. Ku kira kau berbeda Haneul-ssi, ku kira kau mampu menyembuhkan luka Momo, namun kau malah memberikan keterpurukan yang mengerikan padanya. Bahkan Tuhan saja memberikan kesempatan kedua untuk manusia, tapi kau hanya manusia biasa. Kau manusia biasa tapi kau tidak bisa memberikan kesempatan orang lain untuk memperbaiki kesalahannya. Kau semakin terlihat menyedihkan Haneul-ssi, tidakkah kau tengah menunjukkan kelemahanmu di hadapanku saat ini. Aku bahkan rela datang kemari karena Momo memang pantas mendapatkan pembelaan. Karena keegoisanmu, karena sikap keras kepalamu, kau membuat gadis malang itu meninggalkan mimpinya dan kembali ke Indonesia”.

….Be Mine…..

gipge muldeurin bamhaneureun

tteonaji motan neoui moseubi

jamdeun nareul kkaeugo naseo

dasi ibeul matchugo

saranghae soksagideon

ne moksoriga neoui hyanggiga

maeil gwitgae deullyeoonda

neon eodi inneude

“Miris sekali, sama sepertiku yang terlalu lama bersembunyi dalam topeng. Terlalu lama mengurung diri. Terlalu lama menyiksa diri, bahkan perisai yang aku gunakan untuk melindungi diriku sendiri telah menjadi senjata makan tuan.” Momo hanyut mendalami makna dari lirik sebuah lagu yang ia dengarkan melalui earphone nya.

Akan selalu ada perpisahan menyedihkan disetiap hubungan tanpa tahu kapan memulainya. Lebih baik menghindar sebelum terlalu lama hanyut dalam perasaan yang hanya sesaat. Maka, berapapun lamanya waktu yang kau miliki untuk membuangnya, kenangan itu akan selalu melekat dalam dirimu. Seperti angin yang tak pernah menyalahkan angin karena telah menggugurkannya. Seperti hujan yang tahu bagaimana rasanya jatuh namun tetap pada pilihannya untuk jatuh. Seperti itu pula jika bermain dengan sebuah perasaan.

….Be Mine…..

“Mwo? Indonesia? Momo kembali ke Indonesia?” Hanel terkejut, terperangah tak yakin dengan ucapan Hyun Seok. “Geotjimal!” emosi masih menguasai pikirannya. “Apa gunanya aku mengarang cerita pada orang yang jelas-jelas sangat menjunjung tinggi rasionalnya” Hyun Seok mulai tenang.

“Tskkk… bahkan dia pergi tanpa berpamitan padaku.” Haneul menggelengkan kepalanya.

Pletakk..

“Apa kau bodoh, apa kau sudah gila. Bagaimana mungkin dia sanggup berpamitan ketika kau sudah seperti orang gila. Kau bahkan tak mendengarkan sepatah katapun dari mulutnya. Sebenarnya siapa yang tidak punya hati disini?” Hyun Seok meninggikan suaranya. “Sudahlah, sepertinya memang tidak ada gunanya berbicara dengan manusia sepertimu. Ah, tidak, kau bukan manusia. Seorang manusia masih memiliki perasaan, namun kau Kang Haneul-ssi. Kau tidak memiliki perasaan.” Tangannya mengacung, menunjuk ke arah Haneul. Hyun Seok pergi tanpa aba-aba dari pemilik rumah.

Setelah kepergian Hyun Seok, Kang Haneul kembali membabi buta. Tidak ada satupun barang yang luput dari amukannya. Vas bunga, meja, kursi bahkan pas foto dirinya dengan Momo pun dia banting hingga pecah menjadi serpihan.

Untuk sesaat Haneul tenang dalam diamnya. Sementara itu matanya mencuriga sebuah benda yang muncul dibalik serpihan kaca meja yang pecah. Haneul mendekat, mengulurkan tangannya menyentuh sebuah amplop dengan warna kuning. Diatasnya tertulis namanya, dengan sigap Haneul membuka amplop kemudian mengeluarkan isinya yang ternyata sebuah surat.

annyeong oppa,

jaljinaeseoyeo? aku harap setelah ini kau akan baik-baik saja tanpa merasa terbebani. hmm.. aku bahkan belum sempat memberikan hadiah ulang tahunmu. mian, mungkin hadiah itu sudah tidak akan kada artinya lagi sekarang. mian, telah membuatmu bingung. mian, membuatmu jatuh kemudian bangun lagi dan terjatuh lagi lalu bangun lagi. mian, aku telah membohongimu dengan sangat kejam, bahkan disaat aku telah melepasakan topeng yang selama ini menjadi tempatku bersembunyipun aku masih saja melukaimu. aku memang sengaja menjauhimu disaat aku mengetahui perasaanmu padaku. bukan karena aku tidak menghargai perasaan serta perhatian yang kau berikan. tapi aku terlalu takut untuk memulainya lagi dengan orang yang baru saja aku kenal. bahkan, aku terlalu takut jika harus dihadapkan dengan perasaan. rasa sakitku yang terdahulu belum sembuh benar, hingga aku memilih memakai topeng dan mengabaikan setiap perasaan yang tertuju kepadaku. hingga suatu hari kau menyadarkanku melalui wanita lain yang kau anggap sebagai penolongmu dan akhirnya kau memilih untuk bersamanya. aku kira akan terasa ringan setelah tahu kau sudah menemukan pilihanmu, tapi tidak. aku salah, perasaan ini, hati ini sakit entah mengapa. aku berusaha mengelak, masih terus mengelak dengan apa yang aku rasakan. membayangkan wajahmu saja aku merasakan ada getaran aneh dalam diriku. tidak cukup dengan menyiksa diriku sendiri untuk tetap melupakanmu hingga terjatuh sakitpun tetap tidak ada hasil. pada akhirnya seseorang teman berkata padaku untuk memberikan kesempatan kepada orang itu, memberikan kesempatan pada diriku sendiri untuk bahagia. karena aku berhak atas kebahagiaanku, karena aku pantas untuk bangkit dari keterpurukan, karena aku berhak untuk mendapatkan perhatian darimu. dan aku mulai membuka sedikit demi sedikit perasaan yang lama aku asingkan. perlahan aku mulai menunjukkan siapa diriku sebenarnya, seorang kim momo tanpa topeng. tapi, semakin aku menunjukkan kebenaran atas diriku kau semakin ragu untuk melangkah bersama denganku. semakin kau merasa tak yakin atas apa yang kau rasakan terhadapku. hingga kau menyebutku monster. kau bahkan bilang bahwa aku bukan seorang manusia. kau tahu oppa, sakit yang lama aku kubur telah kau buka kembali. aku kira kau akan menutupnya rapat-rapat dan tidak akan mengingatkannya. jika aku memang tidaklah pantas untuk mendapatkan hatimu, maka aku akan pergi. aku telah memutuskan kembali ketempat dimana seharusnya aku tinggal. telah kuputuskan juga akan mengakhiri impianku sebagai penulis hebat sesuai dengan keinginan eomma. gomawo oppa, atas perhatianmu yang telah aku abaikan, gomawo untuk selalu mendukungku kala aku jatuh. kini aku tidak akan membebanimu. aku pergi kang haneul-ssi, annyeong.

                                                                                                orang yang menyia-nyiakanmu

                                                                                                Monica Lazuardi / Kim Momo

Haneul roboh, badannya bergetar hebat. Surat itu jatuh, berhambur tertiup angin melalui sela jendela kamarnya. “Momo-ah, manhi appeuda? Geureom, nan jinjja nappeun namja, aku bahkan tidak tahu siapa nama lengkapmu. Bukankah aku sungguh menyedihkan Momo-ah!” dia menangis, terisak dalam kesakitan yang mendalam. Terlambat, semua sudah terjadi. Gadis itu tidak akan kembali lagi, bahkan jika demi mimpinya pun dia tetap tidak akan kembali.

….Be Mine…..

“Geurae, perasaan bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Darimu aku belajar mengikhlaskan perasaan yang memang bukan milikku. Darimu, aku belajar menghargai perasaan seseorang. Maka, aku akan membiarkanmu mengejar apa yang harusnya kau dapatkan dari seorang wanita yang lebih baik dariku” Momo menahan air matanya, berusaha untuk tetap tegar dan kembali memakai topengnya.

Aku ingin mencintaimu seperti kayu yang tak pernah terucapkan hingga dia menjadi abu. Aku ingin mencintaimu seperti daun yang tidak pernah menyalahkan angin atas gugurnya dia. Aku ingin mencintamu dalam diam dan biarlah aku yang menderita atas perasaan ini.

E N D

Finaly…. i’m finish with the season of story. Untukmu Luvena Faradinna Diana (ibu hamil) aku persembahkan kelanjutan dari Missunderstanding. Untukmu kaka Yoza Boice maaf aku meminjam Kim Hyun Seok nya sebentar. Adikku Ijun, thanks a lot of your specialy support. And then the last special thanks, Kang Haneul Oppa terimakasih atas kisahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s