Happy Ending With Lily


Author : Mozi

Lenght : Drabble

Cast : Kim Momo, Kang Haneul, OC

Disclaimer : this story fanfics is mine. if u’re not like dont read this story. Don’t copy paste without permision.

+.+.+.+.+.+.+.+.+

Yang namanya sifat manusia itu macam-macam. Seperti halnya buah, sayuran, warna, atau perumpamaan lainnya. Mereka memiliki ciri khas dan bentuk sendiri-sendiri. Pun, sama halnya dengan sifat manusia. Tergantung dari diri mereka sendiri mau berusaha merubah yang tidak baik, atau malah membiarkannya berkembang biak.

Satu tahun tepatnya setelah Haneul mengurungkan niat untuk menjemput pujaan hatinya yang selama ini terus menerus memenuhi angannya. Ketika hatinya membutuhkan sosok seorang Kim Momo di dalam hidupnya, namun karena ego dan gengsinya lah keadaan berbalik menjadi semakin rumit. Tidak hanya menyakiti dirinya dan hatinya sendiri, bahkan dengan keangkuhannya gadis polos yang tidak berdosa itu ikut terluka.

Tak ada yang ia dapatkan setelah mengagungkan egonya.

+.+.+

“Kau yakin Kim Momo, tak ingin mencari dokter lain yang lebih baik? aku khawatir penyakit itu menyebar lebih cepat dari dugaanmu” Kim Hyunseok memandang Momo khawatir. Tanpa disangka, tanpa diduga. Kim Momo seorang penyuka bunga lily mengidap Sirosis stadium lanjut. Tubuhnya yang mungil semakin hari semakin kurus. Wajahnya tidak lagi secerah sebelumnya. Tapi, senyum tulus nya yang mampu menghangatkan hati setiap orang masih tetap sama. Hanya saja tidak terlalu bertenaga.

“Aku tau apa yang harus aku lakukan kakak, tak usah kau khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, kau lihat aku masih bersemangat dengan teman-teman kecilku” Momo melanjutkan aktifitasnya menyirami lily-lily putihnya. “Kau mungkin lupa akan satu hal” Momo menghentikan ucapannya, dihembuskannya perlahan udara yang seakan sesak dari dalam tubuhnya. “Aku tidak akan kalah dengan penyakit ini kakak, aku punya kau. Aku punya Appa, aku punya lily ini” Senyum hangatnya mengembang memberikan isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. “Dan aku punya dia di dalam hatiku” ungkap Momo dalam hati, sembari mengingat wajah tampan sosok yang telah lama ia rindukan. “Apa kabarmu oppa?” kembali Momo menggumamkan nya dalam hati.

+.+.+.+.+

Tangannya kembali berkutik dengan benda persegi yang sedari tadi hanya ia pandangi. Mulai mengetik sebuah nama. Mencari sesuatu yang telah membuat hati dan pikirannya kacau.

“Ah.. ini dia” senyum mengembang di wajah kusutnya. “Lama tak berjumpa Kim Momo” celetuknya gembira. “Aku sudah bertekat, tak.peduli kau sudah memiliki orang lain disisimu. Cukup mengutarakan apa yang aku rasa, meminta pengampunan kepadamu atas kesalahan yang telah kuperbuat. Mungkin memang tak pantas aku kembali ke hadapanmu lagi” Haneul bergumam sendiri sembari menatap layar smart phone nya.

Tangannya mengetik penuh keyakinan diatas keyword smart phone. Kotak kecil bertuliskan send telah ditekan, tinggal menunggu balasan dari pemilik akun. 1 menit… 2 menit… 3 menit.. selama itu mata Haneul tak beranjak dari layar smart phone miliknya. “Apa mungkin akun ini sudah tidak lagi ia gunakan?” Keraguan muncul dalam benak Haneul. Hampir saja Haneul ingin beranjak dari tempatnya duduk bersandar, seketika ponsel nya bergetar. Terdapat tanda pesan masuk. Tiba-tiba tangannya bergetar, jantung nya bergemuruh, raut wajah bahagia terpampang jelas. “Dia membalasnya.. dia membalasnya” teriak Haneul dengan girang nya. “Aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Tidak akan aku sia-siakan lagi waktuku yang sangat berharga ini. Bagaimanapun juga dia harus tahu, aku sangat merindukannya, aku menyayanginya, dan aku sangat mencintainya” bisik Haneul pelan.

+.+.+.+.+

Momo terkejut akun laki-laki yang dirindukannya tiba-tiba muncul dengan sebuah pesan. “Maafkan aku, aku pernah membuat kesalahan yang begitu besar terhadapmu” pesan itu jelas sekali penuh dengan ketulusan. Permohonan maaf yang dapat membangkitkan kembali jiwa yang telah lama mati. Bagai kucuran air segar membasahi ladang bunga lily miliknya. “Ini kau Oppa? Benarkah ini dirimu? Atau aku hanya bermimpi” pipi gembil miliknya seketika memerah akibat cubitan dari tangannya sendiri. “Rasanya sakit, berarti ini nyata, ini sungguhan, ini benar-benar kau Oppa” wajahnya sumringah, kehidupan kembali padanya. Harapan nya untuk sembuh seakan bertambah dengan kehadiran sosok seorang Kang Haneul. “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” Tanpa ragu Momo lantas mengirimkan pesan balasan kepada Haneul.

“Aku hampir tak percaya dia kembali menghubungiku. Rasanya seperti jatuh dari langit ke tujuh, namun rasanya bukan sakit melainkan bahagia” gadis itu bergumam sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Rasanya seperti dihujam ratusan, bahkan ribuan mata pisau. Tapi, anehnya tak terasa sakit sedikitpun. Bahkan kebahagian tiada duanya yang menghampiri. “Aku seperti bangun dari mimpi panjang. Benar-benar mimpi yang panjang. Seolah kisah itu hanya akan terjadi di dalam sebuah dongeng. Namun, keajaiban memang benar adanya.” Sakit yang teramat sangat kini terganti oleh kebahagian tanpa diduga-duga. Kenangan pahit adalah pelajaran untuk mereka berdua. Kini saatnya memetik hasil. Berbagi kasih, bersenda gurau bersama, saling mengasihi, saling melengkapi satu sama lainnya. Masalalu adalah masalalu, masa depan sudah di depan mata. Maka, songsonglah dengan hati riang. Tuhan tidak pernah melupakan janjinya. Bahwa, sesuatu yang lebih indah telah dipersiapkan untuk mereka yang memiliki hati yang luar biasa. “Kuharap tuhan memberiku umur panjang, tak akan kusia-siakan lagi dia yang telah kembali dengan merendahkan egonya” air mata meleh meliuk-liuk melewati pipi yang mulai tirus. Hatinya kembali sakit saat harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa umurnya hanya akan bertahan tidak lebih dari 6 bulan. Dokter memang sudah menjatuhkan vonis, tapi hidup tetap Tuhan yang ambil kendali.


Satu bulan setelah kedua manusia itu merajuk kasih yang lama hilang. Momo memutuskan pergi ke Seoul untuk memberi kejutan pada kekasihnya. Ditemani dengan Hyun Seok yang mencemaskan kondisi Momo. Meskipun tenaga yang dimilikiny tidak begitu besar seperti dulu, tekad Momo lebih kuat dari pada penyakit ganas yang saat ini menggerogoti tubuhnya. “Jika kau tak sanggup, maka urungkan saja niatmu menemuinya. Aku khawatir kau semakin melemah Momo-ya” kerut wajahnya menunjukkan kecemasan yang amat sangat. “Dia adalah kekuatanku, salah satu harapanku hidup. Kalaupun aku harus menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, paling tidak aku bisa pergi dengan tenang setelah melihat wajahnya” Momo hanya tersenyum penuh arti. Hyun Seok tahu, gadis kecilnya ini amat sangat merindukan Haneul.


Magnet tempat tidurnya kali ini lebih kuat dari biasanya. Badan yang enggan beranjak dari tempat peristirahatan paling nyaman di seluruh dunia. “Baiklah aku hanya akan bermalas-malasan saja hari ini” seakan memiliki insting jika akan ada tamu yang datang, Haneul sengaja mengambil cuti untuk hanya bermalas-malasan di apartement miliknya.


Setibanya di bandara Incheon, Momo yang digandeng erat oleh Hyun Seok melangkahkan kakinya ke tempat dimana sebuah taxi telah menunggunya untuk mengantarkan mereka kerumah Kang Haneul. “Udaranya masi tetap sama ya kak?” Seru Momo dengan mulut penuh uap. Ini musim dingin, pantas saja uap dari mulutnya begitu tebal. Bibirnya mulai mengering dan terlihat semakin pucat. “Kemarikan wajahmu Momo-ya!” Perintah Hyun Seok sambil mengusapka tangan yang telah ditiupi agar dapat menghangatkan wajah Momo. “Sudah lebih hangat sekarang” Hyun Seok tersenyum diikuti dengan senyuman Momo. “Kakak tak perlu memperlakukan aku seperti ini, aku baik-baik saja percayalah. Aku tidak akan kalah dengan udara dingin ini, karena di sini begitu hangat” Momo menunjuk hatinya sambil tersenyum. Tapi, tiba-tiba gadis itu batuk-batuk tanpa henti. Hyun Seok semakin cemas. Dengan hati-hati Hyun Seok menuntun Momo memasuki taxi di depan mereka. “Kau yakin ingin langsung menuju rumah Haneul?” Tanya Hyun Seok hati-hati. Momo hanya menjawab dengan anggukan. Matanya berkaca-kaca, wajahnya semakin sayu.


Ting .. Tong…

“Selalu saja ada yang mengganggu istirahatku. Aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang di waktu liburku” Haneul bangkit dengan setengah sadar. Mata yang belum sempurna terbuka.

Cklek…. pintu apartementnya terbuka lebar. “Siap…” kata-katanya belum sempat di selesaikan, namun matanya sudah terbuka dengan sempurna. Nyawanya yang seketika kembali sepenuhnya ke dalam tubuh kekarnya. “Nunna… Momo-ya, bagaimana bisa kalian di sini” masih dengan ketidak percayaan atas apa yang Haneul lihat. Kekasihnya yang dari kemarin tidak memberikan kabar sama sekali, hari ini berada di rumahnya. “Masuklah kalian pasti lelah, udara juga sangat dingin di luar” Haneul mempersilahkan keduanya masuk. Momo dan Hyun Seok melangkah memasuki rumah Haneul sementara tuan rumah berlari menuju penghangat ruangan.

Buuukkkk….

Tiba-tiba Momo ambruk. Haneul dengan sigap menoleh menuju suara. “Momo-ya ireona” Hyun Seok berteriak kencang sambil mengguncang tubuh Momo yang mulai kaku. Haneul berlari menuju kekasihnya. “Momo bangunlah! Apa yang terjadi sebenarnya? Akan aku panggilkan dokter, sepertinya dia demam” tutur Haneul khawatir.

“Tidak, biarkan aku menghubungi dokter yang menangani Momo” Hyun Seok mengambil smart phonenya.

“Apa yang kau maksud dengan dokter yang menangani Momo” Haneul memegang erat tangan Hyun Seok meminta penjelasan.

“Nanti aku akan memberitahukan semuanya, tapi biarkan aku menghubungi dokter Momo sekarang” wajahnya seketika mengeras. Hyun Seok takut terjadi sesuatu yang dapat membahayakan nyawa Momo.


Tubuh mungil Momo telah berpindah ke kamar Haneul. Dengan selang infus yang menempel ditangannya. Momo kembali tak berdaya. Haneul dengan wajah terpukul menggenggam erat jari-jemari Momo. Mengelusnya perlahan takut menyakiti kekasihnya. “Apa yang membuatmu seperti ini sayang?” Haneul bertanya pada Momo yang tertidur lelap.

“Satu tahun lalu, tepatnya setelah Momo memutuskan untuk tinggal di Indonesia sesuatu telah terjadi. Momo merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya. Dengan saran yang aku ajukan padanya, Momo datang menemui dokter yang dulu merawat ibunya. Benar saja dugaan Momo bahwa tubuh nya tidak dalam kondisi baik-baik saja” Hyun Seok memutus pembicaraan untuk mengambil napas panjang, perih hatinya mengingat orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya sendiri sedang berada diambang kematian.

“Apa maksudmu tidak baik-baik saja? Katakan dengan jelas!” Haneul membentak keras.

“Sirosis stadium lanjut. Dokter telah memvonis umur Momo hanya akan bertahan kurang lebih enam bulan saja” Hyun Seok melanjutkan penjelasannyaa.

Bagai hantaman batu besar yang seketika menimpa tubuhnya. Haneul hampir saja terjatuh dari tempat duduknya. Rasa tidak percaya menghampiri. Bagaimana mungkin kekasihnya hanya memiliki enam bulan untuk hidup. Sedangkan terakhir kali bertemu Momo sangatlah sehat. “Tuhan cobaan apa ini, mengapa kau berikan cobaan yang begitu besar pada peri kecilku” batin Haneul yang akhirnya meneteskan air mata.


Sudah hari ke tujuh setibanya Momo di rumah Haneul, tapi gadis itu tidak juga menunjukkan tanda-tanda siuman. Kali ini bukan hanya selang infus, namun juga alat pendeteksi detak jantung sudah terpasang ditubuhnya. Seketika itu pula apartement Haneul menjadi rumah sakit kecil.

Bergantian dengan Hyun Seok, Haneul menjaga Momo dengan penuh kasih sayang. Lily putih segar baru saja di ganti oleh Haneul. “Ini sudah Lily ketujuh sejak kau tertidur sayang, mengapa kau tidak juga bangun huh!” Ucap lirih Haneul sambil membenarkan letak vas bunga kecil di atas nakas disebelah kiri Momo. “Aku merindukanmu, sangat merindukanmu sayang. Tapi, mengapa kau datang dengan cara seperti ini. Jika saja aku tahu dari awal, aku tidak akan membiarkanmu membahayakan nyawamu sendiri hanya untuk memberikan kejutan padaku”. Haneul mencium kening Momo dengan sangat lembut. Harum aroma lily menerobos masuk melalui lubang hidungnya. “Kau seperti putri tidur saja yang hanya akan bangun jika sudah di cium oleh pangeran. Tapi, aku sudah menciummu berkali-kali. Namun kau masih saja tidak mau bangun.” Tangan mungil Momo ditempelkan pada pipi Haneul yang mulai basah karena menangis.


Tepat hari kesembilan Momo membuka matanya. Sayup-sayup terdengar merdu suara Haneul memanggil nya dengan sebutan sayang. “Selamat pagi sayang, akhirnya kamu bangun juga dari tidur panjang. Aku baru saja selesai mengganti bunga kesukaanmu dengan yang lebih segar” Haneul perlahan duduk disamping tempat Momo berbaring. Digenggam lembut tangan Momo yang dingin. “Dimana ini?” Momo mencoba bangkit dari tidurnya, namun Haneul mencegah.

“Tubuhmu masih lemah sayang, jangan terlalu banyak bergerak. Istirahatlah sebentar lagi. Jika sudah terisi penuh energimu aku akan mengajakmu jalan-jalan” dengan sabar Haneul memberikan perhatiannya, dikecupnya dengan mesra kening Momo.


Momo tahu waktunya tidak akan lama lagi. Selagi badannya bisa dikontrol dan di ajak kompromi semua tempat rekreasi ingin Momo datangi. Pertama, Momo ingin makan ice cream di pinggiran sungai Han. Kedua, Momo ingin menaiki sepeda mengelilingi sungai Han, ketiga, Momo hanya ingin berada disamping Haneul.

Tanpa firasat apapun Haneul menyanggupi untuk memenuhi permintaan kekasihnya. Haneul mengira bahwa Momo benar-benar telah sembuh sepenuhnya. Dibantunya Momo menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Blouse polos dengan warna kuning yang segar, dipadukan dengan celana jeans berwarna navy, scarf berwarna senada dengan celana jeansnya melengkapi kesan santai tapi tetap modis. Sepatu kets yang tidak pernah lupa Momo kenakan kemanapun ia pergi. Mantel hangat milik Haneul yang sengaja Momo pinjam karena ingin merasakan harum tubuh laki-laki yang sudah menjerat hatinya.


“Tuhan maafkan aku jika harus berbohong. Tidak ada yang namanya berbohong demi kebaikan. Berbohong tetap saja berbohong, dan sama sekali tidak dibenarkan. Tapi, Tuhan sekali ini saja izinkan aku menikmati kebohongan yang indah ini” ungkap Momo di dalam hatinya.

Hampir seharian penuh Momo melakukan aktifitasnya bersama Haneul. Tidak ada satupun raut wajah kesakitan. Rasa itu tergantikan dengan senyum mengembang diwajah tirusnya. “Permintaan terakhirmu sayang” lirik Haneul kepada Momo yang tengah menggandeng lengan kekar Kang Haneul. Seakan tau maksud kekasihnya Momo hanya tersenyum malu. Pipi tirusnya mulai merona karena malu. Akhir dari jalan-jalan panjang seharian penuh ini ditutup dengan duduk di pinggiran sungai Han. Keduanya asyik menikmati semilir angin musim dingin.

Tubuh kecil Momo bersandar di bahu sebelah kiri Kang Haneul. Jemari tangan kanannya menggamit jari-jari Haneul dengan lembut. “Jika nanti aku tak lagi menggenggam tanganmu, maka carilah seseorang yang mampu menggenggam tanganmu seperti yang kulakukan saat ini” Momo membuka keheningan panjang. “Apa maksudmu? Kau pasti sembuh, aku tahu kau gadis hebat yang tak pernah menyerah. Kita akan menikah, hidup bersama, memiliki anak-anak yang lucu, tua bersama hingga maut yang memanggil” genggaman tangan Haneul semakin erat. Momo dapat merasakan ketakutan dalam genggaman tangan kekasihnya.

“Aku hanya ingin melihatmu bahagia Oppa. Bisa melihamu lagi seperti saat ini sudah cukup untuk ku. Dengan begitu aku tak merasa kesepian lagi. Karena di sini, aku tahu bahwa hatimu sudah memilihku” lontar Momo sambil menunjuk dadanya. Dia yakin bahwa Haneul memang telah mengalahkan egonya. Dengan begitu pula Momo dapat tidur tenang selamanya.


Udara dingin semakin menusuk hingga ke dalam tulang. Tubuh kecil Momo mulai menggigil. Namun, tetap saja gadis ini enggan beranjak. Mantel tebal milik Haneul pun berpindah alih. Kini tubuh Momo terlihat lebih besar dari pada sebelumnya.

Tiba-tiba Momo tersedak hingga terbatuk-batuk tiada henti. Darah segar perlahan keluar dari dalam mulut mungilnya. Seketika, wajah Haneul menegang. Merasa bersalah karena membiarkan dirinya membawa Momo jalan-jalan di saat udara sedang tidak bersahabat.

“Kau harus segera ke rumah sakit!” Haneul bersiap akan menggendong Momo. Namun, sang kekasih menolah dengan wajah penuh harap. “Aku mohon oppa, biarkan aku di sini, di sampingmu. Bahkan hingga ajal menjemputku, aku hanya ingin berada di sampingmu” Haneul terdiam bingung. Di lain sisi dirinya khawatir Momo akan bertambah parah. Di sisi lainnya Haneul tak rela melihat wajah melas kekasihnya.

Dengan amat sangat terpaksa Haneul memenuhi keinginan Momo untuk tetap tinggal. Haneul memeluk tubuh kecil itu dari belakang. Sehingga, bersandarlah Kim Momo pada dada bidang Haneul. Napasnya mulai tak beraturan melawan udara dingin. Tangannya makin kaku dan dingin. Haneul terus mendekap erat tubuh kecil kekasihnya.

Tangan kecil yang memucat itu perlahan lunglai dari pangkuan. Momo menghembuskan napas. Sebelumnya terdengar gadis itu mengucapkan sebuah kata-kata yang begitu menyayat hati. “Aku memang tak sempurna, maka sempurnakan aku dengan kasihmu. Aku memang tak sempurna, maka sempurnakan aku dengan cintamu. Aku memang tak sempurna, maka buatlah aku sempurna dengan kehadiranmu. Cinta ini akan aku bawa sampai ajal menjemput. Pelukan hangat ini, akan membuat tubuhku semakin hangat walaupun dinginnya peti dapat meremukkan seluruh tulangku.”


Haneul berteriak histeris saat kekasihnya meregang nyawa di dalam dekapannya. Kata-kata yang di lontarkan Momo semakin perih menyayat hati. Dengan segenap kekuatan Haneul menggendong tubuh Momo yang sudah tak bernyawa. “Kim Momo sayang, tidurlah dengan tenang aku akan menjagamu. Aku akan selalu di sisimu. Akan selalu ku genggam erat tanganmu. Maka, jangan pernah merasa sedih lagi. Karena, aku mencintaimu” tetesan air mata Haneul jatuh membasahi wajah Kim Momo.

Kini gadis kecilnya hanya terdiam tanpa satu patah katapun terlontar. “Kini kau pergi bersama dengan segenap cinta yang tlah kuberikan untukmu”

E         N           D

Advertisements

One Comment Add yours

  1. T.T
    momo-ah…..
    hati kakak sebagian menolak untuk menyebut Happy ending.
    this ending for you momo-ah!
    huwaaaaa!
    cedih dek….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s